Senin, 15 Oktober 2007

Short story

Kesaksian Kakek Dan Surau Tua
Bangunan itu masih tetap saja kokoh, semua kayu
penyangga atap, pintu dan jendela masih kelihatan
segar walaupun penuh kerutan. Semuanya dari bahan kayu
jati yang sudah cukup tua. Mulai lantai hingga atap
tak luput satupun yang menandakan bau semen, tanah
ataupun logam apalagi aksesoris berupa hiasan dinding
mahal. Ya, bangunan surau itu benar-benar menyatu
dengan alam. Keberadaanya bisa dibilang juga kelahiran
sebuah dusun kecilku bernama Garib. Sebuah nama yang
diambil dari nama pendiri surau ini sebagaimana
maknanya yang berarti asing dan aneh.
Kata kakekku, sejak lahir ia sudah melihat surau itu
berdiri dan nampaknya juga masih tetap setua itu. Kami
para penduduk Garib juga cukup kesulitan menerka
berapa umurnya yang pasti. Selama ini kami hanya
menjumpai sebuah bukti bahwa kayu-kayu yang merangkai
bangunan surau itu sudah penuh dengan lipatan dan
kerutan pertanda kerentaanya bahkan sepertinya telah
membentuk ornamen-ornamen alami nan unik walaupun
tanpa dicat ataupun diplitur. Layaknya tempat ibadah
lain, surau ini juga digunakan penduduk kampung
menjalankan ritual-ritual agama seperti sholat ataupun
mengaji. Walaupun luas surau itu tak lebih dari
seratus meter persegi, anehnya ia tetap saja muat
dengan jumlah jama�ah yang hadir. Sepertinya ia tahu
diri. Setiap jama�ah membludak maka dengan sendirinya
ia �memekarkan� tubuhnya, untuk itulah surau itu tak
pernah dilebarkan ataupun direnovasi karena tetap saja
muat berapapun jumlah orang didalamnya. Itu sekelumit
cerita turun-temurun yang kuketahui dari kakek dan
para orang tua di kampung Garib.
Dengan umur yang sudah cukup uzhur, rambut putih yang
sudah nampak mulai berguguran karena usia tua serta
kulit yang melipat-lipat rata di sekujur tubuh dan
wajahnya, Kakekku tak pernah melewatkan seharipun
untuk berselingkuh dengan hal-hal lain. Mungkin di
usia tuanya yang telah mencapai delapan puluh-an hanya
itulah satu-satunya kegiatan untuk mengisi
kepenatannya. Terkadang ia sendirian shalat dhuhur di
surau tua itu dimana kaum para bapak di kampungku
masih sibuk dengan tanamannya disawah, sementara pasar
dikota masih tampak begitu ramai dan sesak oleh
ibu-ibu. Kakekku seakan tetap menunjukkan kesetiaan
dan cintanya pada surau itu. Tak jarang tanpa seorang
pun yang ikut mengiringi dibelakangnya membentuk shaf
bahkan aku, bapakku dan keluargaku.
###
Tak seperti di masa kecilku dulu. Gambaran semarak
surau itu begitu melekat dalam benakku. Masih kuingat
dengan segar, dulu disetiap waktu shalat tiba kami
biasanya saling berlomba menabuh kentongan. Tak jarang
pula satu kentongan kami tabuh beramai-ramai sehingga
bunyinya tak karuan. Kemudian kakekku menyusulnya
dengan ber-azdan, suaranya masih cukup kuat dan khas
walaupun tidak cukup merdu. Letak surau yang tepat
ditengah-tengah bukit kampung Garib membuat suaranya
tetap terdengar ke seluruh pelosok dusun.
�Le, ayo lekas bersih-bersih, waktu shalat telah tiba�
Kata itu masih terngiang ditelingaku. Diumurku yang
masih tujuh tahun saat itu nenekku tak pernah lupa
mengingatkan untuk segera beranjak menunaikan shalat
di kala aku tengah asik bermain perang-perangan
bersama kawan-kawanku. Saat kami mencoba berpaling dan
menolak ia tetap saja mampu merayu kami dengan cara
lain. Tak jarang ia sengaja memasakkan tiwul manis
yang diatasnya ditaburi parutan kelapa untuk
disuguhkan bagi siapa saja yang shalat di surau tua
itu termasuk kami. Cara tersebut memang cukup manjur
karena tiwul yang ia suguhkan memang lezat. Setelah
seharian bermain tenaga kami tentu cukup terkuras,
perut pun mulai keroncongan sehingga tidak ada pilihan
kecuali menuruti anjuranya tapi sebenarnya tidak
sesederhana itu, tiwul masakan nenekku rasanya sangat
khas dan lezat. Tak pernah kujumpai orang sepandai dia
dalam mengolah makanan khususnya tiwul. Itulah
sebenarnya yang tidak ingin kulewatkan bersama
kawan-kawan sepermainanku, makan nasi tiwul yang
rasanya selalu membuat kami rindu.
Tepat di umurku sepuluh tahun, alam di dusunku
sepertinya bersatu larut dalam kesedihan ikut
mengantarkan nenekku ke pangkuan Tuhan. Praktis sejak
itu tak ada lagi cerita tiwul manis nan khas yang
tersuguhkan bagi mereka yang shalat di surau tua yang
menurutku itulah sebenarnya yang ditunggu-tunggu para
jama�ah..
Sepeninggalnya tak ada lagi serangkaian guyonan khas
pedusunan tiap azdan menjelang ataupun kegaduhan
anak-anak kecil di waktu shalat yang suaranya sering
mengganggu mereka yang berdiri di shaf depan. Semuanya
telah menjadi sunyi.
###
Dua puluh lima tahun lalu aku tinggalkan dusun Garib
menuju kota Jakarta. Tak lain hanya untuk mengadu
nasib dan melepas diri dari kemiskinan. Tak seperti
pemuda seusiaku, aku termasuk orang yang tidak sabaran
dan pantang menerima kemiskinan begitu saja sebagai
nasib yang harus dijalani. Berbekal badanku yang
tinggi besar dengan otot-otot kekar aku coba beranikan
diriku menantang Jakarta. Dengan pengalamanku sebagai
seorang paling jago berkelahi di kampung ternyata tak
begitu sulit bagiku untuk menguasai Jakarta. Tak lebih
dua tahun ternyata aku sudah punya nama disana.
Geng-geng dan para preman satu persatu bertekuk lutut
di hadapanku. Aku merasa bagaikan seorang pendekar
baru.
�Kamu harus setor harian kepadanya malam ini, kalau
mau daganganmu aman dari preman itu�. Kata-kata itu
sering terdengar ketika aku berpapasan dengan para
pedagang baru yang belum kenal dengan tradisi yang
bergulir di pasar-pasar kekuasaanku. Dari hasil
��pajak�� itu aku aku telah mampu membeli mobil,
hidup mewah dan menghabiskan malam dengan bersafari
keliling nigt club sambil cari mangsa baru atau
sekedar cari lawan tanding untuk mengukuhkan kehebatan
diriku.
Ya, semua kujalani dengan kebanggaan. Tak pernah
kurasakan hidup semudah, sebebas dan seindah ini,
dapat memilih setiap wanita nakal yang kusukai malah
terkadang mereka sengaja menawarkan dirinya untuk
menaikkan statusnya sebagai pacar seorang jagoan.
Tak ada orang di dusun Garib yang mempermasalahkan
pekerjaanku atau memang mereka sengaja bungkam dengan
gunjingannya karena takut terhadapku. Praktis setiap
pulang kampung aku aman-aman saja. Ayah,ibu maupun
saudara-saudaraku tak pernah ada yang berani
mengusikku. Mereka takut pada kebringasan dan
kenekatanku yang siap mengancam siapa saja yang
mencoba menjajah kebebasanku.
Hanya kakekku yang berani kepadaku. Aku pernah
didamprat habis-habisan setelah tahu pekerjaanku di
Jakarta. Wajahku saat itu lebam-lebam dengan hidung
yang berdarah-darah dibuatnya, tapi aku tetap terpaku
membiarkannya terus memukulku bertubi-tubi. Namun
akhirnya kulihat dia kelelahan dan di akhir
kejengkelannya kulihat air mata dari kedua sudut
matanya mengaliri kerut-kerut di pipinya. Aku tetap
diam membatu. Tak seperti biasanya setiap ada ancaman
aku akan bereaksi sangat keras tapi menghadapi kakekku
aku benar-benar lumpuh. Bukan karena aku kasihan pada
kerentaanya tetapi entah ada apa denganku. Hanya dia
yang kuanggap mampu mengunci kebringasanku.
Setiap tahun memang kupaksakan diriku untuk pulang.
Ada sedikit kerinduan bukan kepada ayah, ibu ataupun
keluargaku tapi semata-mata kepada kemarahan kakekku.
Harus kuakui diam-diam muncul keinginan dalam diriku
untuk bisa dikalahkan seseorang setelah setahun tak
ada lawan yang bisa mengalahkanku. Tapi tiga kali
kepulanganku yang terakhir sebenarnya ada hal lain
yang lebih kuinginkan. Aku mulai merindukan masa
kecilku.
Sudah menjadi ritualku akhir-akhir ini tiap kupulang.
Aku pandangi surau tua itu dari kejauhan. Letaknya
yang diatas bukit menyebabkannya terlihat jelas dari
kejauhan. Lama sekali bahkan berjam-jam posisiku tetap
tak beranjak saat memandangnya, tak berubah.
Tak ada yang berubah dari surau itu. Hanya suasananya
yang berganti, berubah sepi, sangat sepi.
###
Tahun ini aku sengaja pulang agak lebih awal dari pada
tahun-tahun sebelumnya. Jakarta kurasakan semakin
padat saja,udaranya kurasakan semakin kotor,
kebisingannya telah memadat di lorong-lorong tubuhku
hingga memaksaku untuk mencari suasana lain secepatnya
dan itu adalah dusun Garib kampung halamanku yang
masih cukup sejuk seperti dulu.
Jalanan kampung kulalui dengan penuh tatapan dari
kanan ke kiri. Terlihat jelas persawahan membentang
dari bujur selatan ke utara, hanya jalan yang
kulaluilah yang membelahnya namun tak kutemukan
seorangpun kaum muda sejauh ini. Kebanyakan mereka
mencari kerja ke kota seperti aku. Hanya kaum ibu dan
bapak-bapak seumuran ayahku yang tersisa. Tak jarang
mereka yang berpapasan denganku memandangi penuh
curiga namun ada juga yang menganggukkan kepalanya
sebagai tanda hormat padaku.
Setelah setengah hari perjalanan dari Jakarta akhirnya
mobilku berhenti tepat di bawah sebuah bukit, dimana
surau tua itu berdiri. Setelah selama ini tiap aku
pulang hanya memandangnya dari kejauhan, kali ini
kuberanikan diriku untuk bersua dan menyentuhnya.
Jantungku berdegup kencang mengiringi langkahku
menapaki bukit itu. Ada aroma mistik yang begitu kuat
seperti sebuah keinginan dari surau itu untuk menolak
kehadiranku. Baru sepuluh langkah kuayun kakiku,
perasaan ini tambah tidak menentu. Keringat dingin
mulai meraupi wajah dan telapak tanganku, sesekali aku
coba kibas-kibaskan tanganku untuk mengusir gugup yang
datang.
Sesampainya di depan surau tua itu aku berdiri
memandangnya, lama sekali. Nampak bunga �bunga liar
didepannya, rumput-rumput tak mau kalah tumbuh lebat.
Kualihkan mataku menuju pintu. Nampak sebuah
coretan-coretan semprot warna hijau, sepertinya
coretan anak-anak yang iseng.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah tepukan di
pundakku.
��Le, kamu pulang ?.
Suara parau itu membuatku kaget. Kutoleh seorang tua
renta keriput tapi kekar berdiri tepat dibelakangku
yang tak lain adalah kakekku sendiri. Entah tiba-tiba
tanganku secara reflek meraih tangannya kemudian
menciumnya, padahal selama lebih dua puluh tahun tak
pernah sekalipun aku mencium tangan seorangpun
termasuk bapak ibuku. Tapi ada sesuatu lain yang
kurasakan. Saat ini dia bersikap sangat mendewasakanku
tanpa sebuah tamparan maupun cacimaki yang biasanya
kerap ia lontarkan tiap kupulang. Raut mukanya tak
kutemukan tanda-tanda permusuhan ataupun kecewa
terhadapku, padahal itu yang biasanya membuatku rindu.
��Waktu Zhuhur tiba, aku harus menunaikannya��.
Hanya kata itu yang kemudian kudengar. Tapi aku hanya
diam dan larut dalam ketakjubanku kepadanya. Orang
setua dia tak pernah merasa bosan membersamai surau
ini. Apa yang menariknya hingga harus mengabdikan diri
disini?
Surau tua itu seperti menarik bajuku, menuntunku untuk
bergegas membuka sandal dan jaketku. Saat berwudlu
tanganku agak gemetar dan kikuk karena terus terang
aku harus mengingat-ingat urutan dan tatacara berwudlu
yang hampir saja kulupa. Kemudian aku berdiri di
belakang kakekku bersama-sama shalat, sebuah ritual
yang selama di Jakarta tak pernah kutunaikan lagi. Tak
terasa setiap lantunan doa yang kubaca membawaku pada
ingatan akan mereka orang-orang kecil tak berdaya yang
kuperas dan kuhisap hartanya, mengawini tiap perempuan
yang kusuka hingga gambaran yang begitu jelas
malam-malamku yang melalang di nightclub. Setiap
ingatan saat itu benar-benar menamparku dan membuatku
cengeng, aku benar-benar ditelanjangi. Satu demi satu
buliran air mataku mengalir hingga menetesi lantai
surau. Setiap bersujud kuingin berlama-lama tenggelam
menikmati aroma kesejukan yang membuat jiwaku
tertawan. Setelah usai shalat setengah sadar aku
meraung sekeras-keras suaraku seperti orang yang
tersiksa. Sementara kakekku terus saja melantunkan
bacaan tasbih berkali-kali ke telingaku, semakin keras
semakin kuat aku meraung. Hingga akhirnya aku
tersungkur kembali bersujud.
Sambil sesenggukan kucoba kuatkan hati dan diriku.
Kuteruskan dengan duduk bersila sambil memejamkan
mataku. Kurasakan kedamaian tiap nafas yang kuhirup
serta ketenangan yang tidak pernah aku dapatkan
sebelumnya. Terbetik dihatiku merindukan surga tapi
lagi-lagi hatiku menampiknya seakan mengingatkan
diriku tak pantas berada di sana.
��Ya Allah, surau tua ini telah menjadi saksiku untuk
kembali kepada jalan-Mu�
Mendengar ucapanku kulihat bibir kakekku terkembang
bukti bahagia.

Yogyakarta,Maret 2007

Tidak ada komentar: