Siang Kematian
Kau lari berputar
Membukakan terang mengunci petang
Mengantarkan warna-warni puisi alam
Pada para pemuja keindahan
Ah,
kilatan siang
Kau mulai berpaling
Picikkan rasamu
Membabi buta membakar kayu-kayu
Hingga tak tersisa sebatas jeda waktu
Kebanggaan yang dirindu-rindu tiap pagi
Beriringan kilauan embun di pucuk ilalang dan
rumput-rumput liar
Tak lagi pesonakan pagi
Ohoi �panas siang
Wibawa terikmu tak lagi gencar
Hanya semakin membuat ngeri mataku
Terpaku diam menikmati kengiluan
Tatapan yang kau suguhkan
Tak pernah beranjak
Mengantar mata pada tangisan-tangisan bau hitam
Rona-rona duka tersebar bersama sinarmu
Bertalu-talu lima kali dalam sehari
Bersautan dengan suara azan
Siang
Kau telah berganti baju
Anak kecilpun dapat mengejamu
Tiap kau bertandang
Tak lagi terucap harapan
Membius ruh-ruh layu
Semua termaknai kematian yang mengejar
Sambil melenggang kau berbisik sahdu
�Kematian awal kehidupan�
Yogyakarta, Maret 2007
Ruang (yang kembali ) kosong
Tegun mulai mengajak mata ini berayun
Bersambung dengan ratapan sisa-sisa suara tak bertuan
Memandang jauh lelaku penuh keyakinan
Merangkai pecahan-pecahan kaca yang ternoda
Masamu�
Gemuruh suara itu lahir
Diiringi tetesan darah semangat yang terpendar-pendar
Bak kilatan cahaya di pusat gelap
Membikin malaikat di pojok-pojok langit
Memuji elok suaramu
Disini�
Sekian tahun lalu
Di keadaaan sepi dalam ruang yang sama
Semuanya tertinggal
Termampatkan
Mungkin juga sudah terlelang
Kusaksikan�
Mata dan mulut sejarah terbungkam
Berevolusi menjadi monumen bangkai berlapis emas
Berdiri semegah tong-tong kosong,
Takkan lagi bisa kau kenal
Bahkan sekedar untuk mencium baunya
Ruangan itu hanya menyisakan kamar-kamar gelap
Tak ada lagi rupa malaikat tersenyum
Menyambut lagu kemenangan
Suara-suara suci itu pergi
Meniggalkan jejak kesunyian
Tanpa tahu kapan sejarah itu terlahir kembali
Yogyakarta, Februari 2007
RINTIHAN SEBUAH JALAN
Jalan yang tersusur
Mengucapkan tiap nyawa yang terangkai
Tergambar luka dan darah tercecer
Membasahi tulang dan igamu
Pernah engkau bermimpi ?
Melihat bayang-bayang mereka dicermin jalan itu
Fatamorgana yang berdiri diseberang jalan
Berkesima dengan cahaya-cahaya
Semua terang bukan jaminan untukmu
Mengingat mereka dalam jengkal langkahmu
Yogyakarta, 29 Maret 2007
SUATU SORE
Mendung kali ini
Membelah lagu-lagu pikirku
Meraupi wajah sunyi dengan kidung luka
Menyeret asa ke laut desah
Mempertanyakan setiap tanda-tanda
Mataku,wajahku,bibirku merasai kelu
Terdiam dalam titik-titik waktu-Mu.
Yogyakarta,29 Maret 2007
Alam (tak lagi) Berpuisi
Alam (tak lagi) berpuisi
Mendendangkan lagu-lagu indah karya ilahi
Mulutnya tersumbat oleh tamparan tangan-tangan serakah
Tubuhnya terkoyak anjing-anjing liar
Aromanya terendus tikus-tikus bermoncong
Buah hidupnya disandera para kelelawar
Ditelanjangi dan diperkosa
Tak ada lagi tersisa
Menjelang ajal
Ia berwasiat kepada anak cucunya
�Bangunkan monumen kesedihan manusia
diatas amarahku sebagai pembalasan�
Yogyakarta, Maret 2007
Gelap
Di sudut-sudut tembok seribu lampu dipijarkan
Ratusan obor dipaksa menyala di tengah mata
Sementara ruang realita tetap saja menikmati gelapnya
Cahaya
Kau tak lagi mampu menelisik sekat-sekat
Menyuguhkan bayang pada kornea
Kenapa kau bersikukuh
Enggan bersatu dengan kegelapan
Dan bergumul melahirkan terang..?
Gelap
Kau bukanlah milik malam semata
Mewarnai kesunyian kala lampu padam
Wujudmu telah menjadi pandangan berjuta mata
Melucuti cahaya yang mengalir di tiap-tiap indera
Membunuh intuisi daan nurani
Mencabik-cabik nyali khayal
Dan menuntunnya pada buta
Yogyakarta, Maret 2007
Burung-burung Gereja
Rintik angan yang tersisa dipelukan
Berpaling dan bersekutu dengan kaum plin-plan
Datang kembali merapatkan burung-burung gereja pada
asa
Berjahit balutan asap
Dan mimpi terbungkus kado indah
Sebuah persembahan dari altar setan
Oh,..
Burung-burung gereja bertebaran
Sambil meletakkan nasibnya mereka menyambut dengan
gembira
Kabar-kabar keindahan bengkit menuju surga
Yang mereka terima kemarin
Burung-burung gereja berebut
Menyemut
Membuka kado hadiahnya
Terbata-bata mereka
Seluruh isi kado meletup
Mengiang dan berputar
Melubangi sayap-sayapnya
Tak bisa lagi dipastikan
Dan seenaknya melaju tanpa koma
Terus menyembul menebarkan benih murka
Di tiap-tiap ruang yang terlena
Tiada ampun terus saja menyambar
Merontokkan mukim-mukim keteduhan burung-burung gereja
Yang telah lama lapar
Di kota para burung gereja
Laknat-laknat menghadang di pintu-pintu kota
Mural-mural untuk meyambut tamu yang datang
Diganti jejeran nyawa sebagai tumbal hiasan budaya
Dengan sesekali diiringi nyanyian bernada lirih
burung-burung gereja yang sekarat
Menyanyikan koor lagu memanggil kiamat
Tunggulah�
Ketika nafas-nafas yang kaulindas
Akan berbagi mantra dengan murka Tuhannya
Membentuk adonan kebinasaan
Yogyakarta, Juli 2006
Oleh :
Kau lari berputar
Membukakan terang mengunci petang
Mengantarkan warna-warni puisi alam
Pada para pemuja keindahan
Ah,
kilatan siang
Kau mulai berpaling
Picikkan rasamu
Membabi buta membakar kayu-kayu
Hingga tak tersisa sebatas jeda waktu
Kebanggaan yang dirindu-rindu tiap pagi
Beriringan kilauan embun di pucuk ilalang dan
rumput-rumput liar
Tak lagi pesonakan pagi
Ohoi �panas siang
Wibawa terikmu tak lagi gencar
Hanya semakin membuat ngeri mataku
Terpaku diam menikmati kengiluan
Tatapan yang kau suguhkan
Tak pernah beranjak
Mengantar mata pada tangisan-tangisan bau hitam
Rona-rona duka tersebar bersama sinarmu
Bertalu-talu lima kali dalam sehari
Bersautan dengan suara azan
Siang
Kau telah berganti baju
Anak kecilpun dapat mengejamu
Tiap kau bertandang
Tak lagi terucap harapan
Membius ruh-ruh layu
Semua termaknai kematian yang mengejar
Sambil melenggang kau berbisik sahdu
�Kematian awal kehidupan�
Yogyakarta, Maret 2007
Ruang (yang kembali ) kosong
Tegun mulai mengajak mata ini berayun
Bersambung dengan ratapan sisa-sisa suara tak bertuan
Memandang jauh lelaku penuh keyakinan
Merangkai pecahan-pecahan kaca yang ternoda
Masamu�
Gemuruh suara itu lahir
Diiringi tetesan darah semangat yang terpendar-pendar
Bak kilatan cahaya di pusat gelap
Membikin malaikat di pojok-pojok langit
Memuji elok suaramu
Disini�
Sekian tahun lalu
Di keadaaan sepi dalam ruang yang sama
Semuanya tertinggal
Termampatkan
Mungkin juga sudah terlelang
Kusaksikan�
Mata dan mulut sejarah terbungkam
Berevolusi menjadi monumen bangkai berlapis emas
Berdiri semegah tong-tong kosong,
Takkan lagi bisa kau kenal
Bahkan sekedar untuk mencium baunya
Ruangan itu hanya menyisakan kamar-kamar gelap
Tak ada lagi rupa malaikat tersenyum
Menyambut lagu kemenangan
Suara-suara suci itu pergi
Meniggalkan jejak kesunyian
Tanpa tahu kapan sejarah itu terlahir kembali
Yogyakarta, Februari 2007
RINTIHAN SEBUAH JALAN
Jalan yang tersusur
Mengucapkan tiap nyawa yang terangkai
Tergambar luka dan darah tercecer
Membasahi tulang dan igamu
Pernah engkau bermimpi ?
Melihat bayang-bayang mereka dicermin jalan itu
Fatamorgana yang berdiri diseberang jalan
Berkesima dengan cahaya-cahaya
Semua terang bukan jaminan untukmu
Mengingat mereka dalam jengkal langkahmu
Yogyakarta, 29 Maret 2007
SUATU SORE
Mendung kali ini
Membelah lagu-lagu pikirku
Meraupi wajah sunyi dengan kidung luka
Menyeret asa ke laut desah
Mempertanyakan setiap tanda-tanda
Mataku,wajahku,bibirku merasai kelu
Terdiam dalam titik-titik waktu-Mu.
Yogyakarta,29 Maret 2007
Alam (tak lagi) Berpuisi
Alam (tak lagi) berpuisi
Mendendangkan lagu-lagu indah karya ilahi
Mulutnya tersumbat oleh tamparan tangan-tangan serakah
Tubuhnya terkoyak anjing-anjing liar
Aromanya terendus tikus-tikus bermoncong
Buah hidupnya disandera para kelelawar
Ditelanjangi dan diperkosa
Tak ada lagi tersisa
Menjelang ajal
Ia berwasiat kepada anak cucunya
�Bangunkan monumen kesedihan manusia
diatas amarahku sebagai pembalasan�
Yogyakarta, Maret 2007
Gelap
Di sudut-sudut tembok seribu lampu dipijarkan
Ratusan obor dipaksa menyala di tengah mata
Sementara ruang realita tetap saja menikmati gelapnya
Cahaya
Kau tak lagi mampu menelisik sekat-sekat
Menyuguhkan bayang pada kornea
Kenapa kau bersikukuh
Enggan bersatu dengan kegelapan
Dan bergumul melahirkan terang..?
Gelap
Kau bukanlah milik malam semata
Mewarnai kesunyian kala lampu padam
Wujudmu telah menjadi pandangan berjuta mata
Melucuti cahaya yang mengalir di tiap-tiap indera
Membunuh intuisi daan nurani
Mencabik-cabik nyali khayal
Dan menuntunnya pada buta
Yogyakarta, Maret 2007
Burung-burung Gereja
Rintik angan yang tersisa dipelukan
Berpaling dan bersekutu dengan kaum plin-plan
Datang kembali merapatkan burung-burung gereja pada
asa
Berjahit balutan asap
Dan mimpi terbungkus kado indah
Sebuah persembahan dari altar setan
Oh,..
Burung-burung gereja bertebaran
Sambil meletakkan nasibnya mereka menyambut dengan
gembira
Kabar-kabar keindahan bengkit menuju surga
Yang mereka terima kemarin
Burung-burung gereja berebut
Menyemut
Membuka kado hadiahnya
Terbata-bata mereka
Seluruh isi kado meletup
Mengiang dan berputar
Melubangi sayap-sayapnya
Tak bisa lagi dipastikan
Dan seenaknya melaju tanpa koma
Terus menyembul menebarkan benih murka
Di tiap-tiap ruang yang terlena
Tiada ampun terus saja menyambar
Merontokkan mukim-mukim keteduhan burung-burung gereja
Yang telah lama lapar
Di kota para burung gereja
Laknat-laknat menghadang di pintu-pintu kota
Mural-mural untuk meyambut tamu yang datang
Diganti jejeran nyawa sebagai tumbal hiasan budaya
Dengan sesekali diiringi nyanyian bernada lirih
burung-burung gereja yang sekarat
Menyanyikan koor lagu memanggil kiamat
Tunggulah�
Ketika nafas-nafas yang kaulindas
Akan berbagi mantra dengan murka Tuhannya
Membentuk adonan kebinasaan
Yogyakarta, Juli 2006
Oleh :
Ishaq FH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar