Rabu, 24 Oktober 2007

LAPTOP, OBITUARI NURANI DPR

 Mendengar pengajuan pengadaan fasilitas laptop senilai
21 juta perunit oleh  Badan Urusan Rumah Tangga (BURT)
telah disetujui oleh DPR, sebagai rakyat yang
diwakilinya tentu hati ini terasa tersayat-sayat.
Sejauh ini bagaimanapun sikap para penguasa selalu
mengedepankan aji mumpung, mumpung berkuasa dan berhak
mengatur anggaran, sehingga dengan dalih kebutuhan
peningkatan kinerja lagi-lagi mereka anggota dewan
mengakali rakyat dengan program laptopnya. 
 
Pemilu tiga tahun lalu yang kita harapkan sebagai
sejarah emas pemilu paling demokratis ternyata telah
melahirkan badan legislatif pusat maupun daerah yang
kualitasnya sudah sama-sama bisa kita saksikan. Hampir
tiap hari selama mereka menjabat noktah hitam tak
hentinya saling susul-menyusul, jikalau DPRD  selalu
terbelit dengan masalah-masalah APBD dan Rapelan maka
DPR Pusat selalu reseh dengan mencari peluang  proyek,
jalan-jalan keluar negeri dengan dalih studi banding
hingga tuntutan  berbagai fasilitas termasuk laptop
tadi. 
 
Entah kebetulan atau tidak, harus disadari bahwa
selama perjalanan sejarah bangsa ini lembaga
legislatif kita (DPR) tak pernah mencapai kinerja yang
membanggakan. Diawali era Sokarno ketika itu  Dewan
Konstituante mentok dalam mencari UUD  baru sebagai
landasan pengganti UUDS. Kebuntuan ini akibat dari
permainan saling sikut partai-partai pemegang kursi,
mau tidak mau hal ini juga berimbas pada DPR. 
Berkaca pada pengalaman buruk itu Soharto sebagai
pemimpin orde baru mengambil “kebijakan” satu warna,
segala sesuatu harus seragam termasuk komposisi para
wakil yang duduk di DPR, kontan hal ini menjadikan
Senayan adem-ayem sebagaimana yang  digambarkan oleh 
B.N Marbun dengan anggota DPR yang kerjanya hanya
datang, daftar, duduk, dengar, diam, duit bahkan
mengambil gaji pun menyuruh orang lain.
Rakyat sempat berharap terhadap kemunculan peran ideal
Dewan Perwakilan Rakyat sebagai lokomotif utama
penarik gerbong demokratisasi di Indonesia ketika
reformasi digulirkan namun keadaan ini mengalami
kebablasan hingga saat ini dimana peran dan fungsi DPR
 begitu powerful. 
Sebagai salah satu lembaga yang menggawangi pilar
demokrasi sebagaimana prinsip trias politica, DPR
sebagai lembaga penyalur aspirasi rakyat seharusnya
memikirkan dan memajukan rakyat yang diwakilinya.
Mati Nurani
Melihat sikap sebagian anggota DPR yang terus saja
ngoyo meloloskan program tersebut -yang akhirnya juga
berhasil dengan manis -dilihat dari kacaamata apapun
nyata-nyata telah menjadi indikator ketidak pedulian
mereka terhadap rakyat secara umum.
Sangat tidak etis ditengah kondisi ekonomi rakyat yang
semakin sulit, bencana bertebaran dimana-mana, serta
pengangguran yang meningkat tajam DPR justru
menyibukkan diri dengan pengadaan aneka fasilitas
termasuk laptop, galibnya fasilitas tersebut dianggap
mampu meningkatkan kerja mereka. 
Tidak berhenti disitu, anggaran yang diajukan untuk
pembelian laptop ternyata begitu hebat, mencapai Rp.
21 juta perunitnya !  dengan  jumlah 550 anggota dewan
maka total keuangan negara yang dihabiskan untuk
program ini mencapai Rp. 12.1 miliar. Siapapun akan
terperangah dengan harga laptop sebesar itu, Idealnya
harga tersebut mampu membeli laptop kelas wahid
sekaligus perangkat lunaknya. 
Dengan harga yang tidak wajar seperti itu tentu dalam
perjalananya akan riskan penyalahgunaan seperti
praktik mark-up dan sebagainya. Wajar jika masyarakat
banyak menghawatirkan adanya praktik otak-atik
anggaran di kalangan DPR. 
Hal ini sungguh mengkhawatirkan sebab arah DPR dalam
menjalankan kekuasaanya menjadi bias. Bagaimana tidak
bila segala kewajiban dan kewenangannya selama ini
masih terpaku pada budaya aji mumpung. Peluang-peluang
yang ada selalu saja tak pernah lepas dimanfaatkan
ketika kontrol publik terhadap mereka mulai melemah. 
 
Tidaklah demikian sikapnya bila anggota DPR kita masih
punya nurani, sebagai seorang manusia tentunya mereka
harus bisa  mengambil hikmah atas kasus-kasus korupsi
APBD 1999-2004 oleh anggota DPRD untuk dijadikan
terapi preventif bagi dewan kedepan, galibnya semua
itu tak mampu menahan gejolak budaya aji mumpung tadi.
Malahan seringkali peluang-peluang itu dibungkus
dengan kata-kata “upaya peningkatan kerja”. 
 
Beri Pelajaran
 
Kita sebagai rakyat yang diwakilinya tentu sangat
jengah dengan kelakuan para wakil kita di Senayan,
untuk itu kaitannya dengan pengadaan laptop hendaknya
anggota DPR yang masih merasa memiliki nurani harus
berani mengambil sikap tegas menolak pemberian laptop
tersebut. Begitupun juga dengan anggota DPR yang telah
mempunyai laptop atau sama sekali tidak bisa
mengoperasikannya sebab hal itu hanya akan menjadi
kesia-sian belaka bagi mereka.
 
Pemerintah dalam hal ini juga harus melihat substansi
“kebijakan”. Selama ini pemerintah hanya melihat
kualitas kinerja dari ukuran fasilitas padahal itu
hanya sebagai pendukung sedangkan yang lebih
menentukan kinerja adalah sikap mental.  Dan laptop
disini jika dihadapkan pada asas manfaatpun bernilai
rendah bila dihadapkan pada kerja-kerja lingkup DPR.
Alangkah lebih baiknya jika dana yang sedianya
digunakan untuk membeli laptop dialihkaan ke pos-pos
dana lain yang lebih berguna.
 
Kondisi anggota DPR yang masih memikirkan
kepentinganya sendiri harus segera disadarkan baik
melalui kritik maupun hukum. Kasus-kasus yang menimpa
DPR selama ini lebih banyak diakibatkan karena DPR
tidak menempatkan dirinya sebagai pejuang. Mereka
merasa sebagai pejabat negara. Bila mereka memandang
dirinya pejuang maka permintaan laptop merupakan
sesuatu yang memalukan. 
 
Sebagai pemilih dalam pemilu kedepan masyarakat
Indonesia harus diberi penjelasan yang mendetail dan
transparan mengenai profil anggota DPR meliputi
kekayaan, pengalaman, tingkat intelektualitas, hingga
hardskill maupun soft skill yang mereka miliki. Hal
ini sebagai upaya preventif pertama dalam menilai
anggota dewan dalam berkuasa nantinya. Sehingga
diharapkan kedepan tak ada lagi cerita anggota dewan
yang melanggengkan budaya aji mumpung. 
 
Selain itu upaya mosi tidak percaya terhadap anggota
DPR  hendaknya juga dilakukan sebagai upaya protes dan
pemberian pelajaran dari rakyat atas kelakuan mereka
yang tak lagi mencerminkan suara rakyat.

CERMIN KETUMPULAN ESQ

Apa yang pernah diagung-agungkan para arsitek ORBA dimasa lalu dengan pendidikan manusia seutuhnya saat ini senyatanya telah menuai efek yang dahsyat. Untuk mencapai target tersebut para penguasa-yang nota bene diisi orang-orang militer-tak segan memasukkan nilai-nilai militeristik ke dalam pendidikan. Sekolah kedinasan berbasis sipil seperti IPDN secara kelembagaan dicekoki pandangan salah kaprah dengan menempatkan pembinaan para praja melalui cara-cara militer yang biasanya lebih memandang fisik dan IQ sebagai satu-satunya jalan penentu kualitas seorang manusia, hasilnya ESQ para Praja menjadi tumpul.

Siapapun akan tercengang bercampur ngeri setelah melihat fakta-fakta kebengisan para praja di IPDN berkali-kali menghiasi berbagai media, terakhir tewasnya Cliff Muntu semakin menambah deretan korban kebengisan di lembaga tersebut. Padahal pada 2003, praja Wahyu Hidayat juga ditemukan meninggal akibat penganiayaan fisik oleh seniornya. Saat itu publik mulai tersadarkan, ada kekerasan tersembunyi di kampus calon birokrat itu.

Menurut data yang dihimpun Jawa Pos, setidaknya ada 37 korban kekerasan yang meninggal akibat kekejaman praja senior (Senin,09/4,07). Bahkan data yang dipakai oleh News Dot Com (Senin, 9/ 4, 07) menyebutkan bahwa sejak tahun 1990 korban meninggal di STPDN atau sekarang IPDN sudah mencapai 46 orang. Berarti selama 17 tahun ini setiap tahun rata-rata ada 2 praja meninggal karena kekerasan di STPDN-IPDN. Tidaklah berlebihan jika kemudian rakyat menuntut lembaga tersebut dibubarkan agar tidak banyak memakan korban lagi.

Rekor aksi kekerasan yang ditorehkan IPDN tidak terlepas dari bobroknya sistem pembinaan dari praja senior kepada para yuniornya. Pembinaan semi militer yang diterapkan disana sudah dianggap suatu kewajaran dengan dalih meningkatkan daya tahan fisik. Biasanya hal ini diterapkan untuk memperoleh lencana ataupun status baru seperti masa orientasi.

Tidak hanya itu saja, ada fenomena yang cukup menyedihkan yaitu terjadi praktik mempertukarkan kekerasan dengan materi. Menurut seorang mantan praja (mahasiswa STPDN), yunior yang memberi sejumlah uang kepada senior tertentu akan membebaskan dirinya dari pemukulan para senior bersangkutan. Apabila pengakuan ini benar, yang marak terjadi di lembaga pendidikan calon pamong praja itu tergolong premanisme. Pada tahap ini, tampaknya mereka diam-diam berlatih mengemas ancaman dan penggunaan kekerasan secara sistematis sebagai komoditas. Perilaku ini tidak sekadar merupakan premanisme, tetapi mendekati ciri-ciri terorisme.

Memutus Mata Rantai

Mata rantai kekerasan yang terjadi di IPDN selama ini akibat adanya pembagian kekuasaan layaknya di dunia militer, dimana para praja senior menganggap dirinya lebih superior dengan menempatkan praja yunior sebagai kaum inferior. Dengan anggapan seperti ini maka senior mempunyai hak-hak istimewa dalam mendikte maupun “membina” bahkan menghakimi.

Pengalaman praja senior sewaktu menjadi yunior sering dilaksanakan secara gebyah uyah. Mereka main pukul rata pada yuniornya tanpa memerhatikan segi-segi lain yang kurang selaras. Menurut HC Kelman (1966), aktivitas dalam hal ini kekerasan yang sudah lama dipraktikkan di lingkungan setempat akan dianggap wajar oleh komunitas di tempat itu, meski amat bertentangan dengan nilai-nilai umum di masyarakat. Dalam perkembangannya kekerasan akan dianggap sebagai hubungan sosial yang wajar antar individu.

Begitu pula yang terjadi di IPDN, para praja yunior berusaha menyerap semua yang didapat di sana sebagai sesuatu yang baik karena berada di kampus itu sudah diidamkan sejak lama. Pandangan atau nilai pribadi dikalahkan agar dapat menerima apa-apa yang baru dijumpai meski disadari, hal itu buruk. Bila proses ini berhasil, nantinya akan melahirkan senior penuh death insting yang menganggap bahwa penganiayaan berat sebagai kesenangan.

Ketika penganiayaan terhadap orang tak berdaya telah menjadi hiburan, sebenarnya pelakunya adalah sakit, menderita gangguan kejiwaan akut. Mereka melakukan kekerasan, tidak tahu mengapa hal itu dilakukan, kecuali untuk menikmati derita korban dan memompa ego sebagai pihak yang berkuasa

Sementara dilain pihak praja yunior sebagai korban kekerasan justru cenderung menerima perlakuan tersebut dengan berbagai motif seperti menghindari hukuman yang lebih keras atau tidak ingin dikeluarkan dari kelompok.

Agar tidak terulang dalam melahirkan praja-praja bertangan besi maka diperlukan sejumlah perombakan dan penegakan hukum yaitu,

Pertama, pemecatan hendaknya tidak hanya berlaku bagi para praja pembunuh saja tetapi bagi mereka praja yang terbukti sebagai pelaku kekerasan. Hal ini merupakan langkah awal sebagai peringatan untuk segera menghentikan tindakan-tindakan tidak edukatif tersebut.

Kedua, pembinaan praja di IPDN harus dirombak total. Materi pembekalan militer selama 3 - 6 bulan yang biasanya diberikan kepada praja IPDN yang baru masuk hendaknya dihilangkan. Pembekalan militer inilah yang bisa menyebabkan para praja itu menjadi sok militer. Kondisi inilah yang dapat memantik praja senior merasa lebih superior dari pada yuniornya. Jika perlu sebutan yunior maupun senior dihilangkan agar tidak terjadi dikotomi yang berkepanjangan. Pembinaan praja kedepan jangan hanya berpusat pada IQ dan fisik semata tetapi juga memupuk kecerdasan emosi/hati, inisiatif, optimisme,kemampuan beradaptasi atau meminjam istilah Ary Ginanjar disebut sebagai ESQ.

Ketiga, perlunya sebuah hubungan yang terbuka antara praja senior, yunior dan juga lembaga yang menaunginya. Hubungan yang dewasa dan sehat melalui upaya mempercayai, mendengarkan dan menjelaskan.akan memudahkan para praja menjadi dirinya sendiri secara maksimal.

Keempat, para pejabat di sekolah-sekolah kedinasan harus ikut bertanggungjawab atas semua tindak kekerasan di sana . Pertanggungjawaban pidana semua kejahatan tidak dapat hanya dibebankan kepada para praja saja, sebab mereka termasuk melakukan pembiaran (omission) berlangsungnya penyiksaan sehingga berakibat pembunuhan, padahal mereka dapat mencegahnya.

Sebagaimana menurut John Conrad (dalam Sanford H Kadish,1983), kejahatan dalam dunia pendidikan ini berlangsung karena diberi ruang oleh struktur yang sah, senior diberi hak atau dibiarkan menindas yuniornya, layaknya yang terjadi di IPDN sehingga cukup wajar jikalau masyarakat mencap lembaga tersebut sebagai pencetak pejabat-pejabat tukang jotos yang bisa membunuh sesama calon pengabdi Negara.

Maka tak ada kata lain untuk menepisnya yaitu dengan mengembalikan fungsi sekolah kedinasan sebagai kawah calon abdi rakyat yang simpatik dan berbobot baik moral maupun inteligensinya.

KEMENANGAN FANTASI ATAS REALITA



Hari ini memang bukanlah eranya si Unyil, Bawang

putih, ataupun Keluarga Cemara yang dalam setiap jalan

ceritanya syarat makna serta menawarkan

prilaku-prilaku edukatif melalui karakter

masing-masing pemainnya. Sehingga dalam perjalanannya

mampu membentuk atau setidaknya memberi pelajaran

moral kepada segmen penonton yang dituju-dalam hal ini

anak-anak Indonesia.

Hari ini adalah hari ketika dunia sinetron Indonesia

disesaki pemain anak-anak yang bejibun jumlahnya,

kehadiran mereka dalam dunia sinetron Indonesia

semakin hari merambah ke berbagai segmen cerita dari

yang sederhana sekedar peran bumbu hingga yang paling

kompleks menuntut keterlibatannya dalam konflik yang

disuguhkan dimana sebenarnya lebih pas sebagai ranah

orang dewasa.

Salah satu unsur konkrit pelibatan anak-anak yang jadi

trend sekarang ini adalah menarik mereka menjadi

bagian dari sinetron-sinetron remaja. Tidak

tanggung-tanggung mereka banyak juga yang dipasang

sebagai pemain utamanya. Disini kebijakan sutradara

dan skenario terlihat dipaksakan padahal, dari segi

umur maupun tingkat kedewasaan para pemain yang masih

tahap usia anak-anak itu dalam memerankan sosok remaja

belum cukup mewakili untuk mengartikan masa remaja

yang sesungguhnya, bahkan terkesan bias.

Hal ini masih dilengkapi dengan jalan cerita sinetron

remaja di stasiun-stasiun TV yang terjebak pada

gambaran masa remaja yang terkesan dibuat-buat penuh

dengan fantasi. Disana-sini para pemain anak-anak di

setting sedemikian rupa sehingga karakter kekanakannya

hilang dan yang tertinggal hanya kesan glamour, usil,

dan sikap badung menjelang masa remaja. Belum lagi

ditambah dengan rentetan cerita yang hanya

berputar-putar pada persaingan merebut pacar hingga

perlakuan tidak adil dari ibu maupun saudara tiri.

Praktis, nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi

amanat tiap sinetron menjadi hambar, bahkan mungkin

memang sengaja ditiadakan.

Perekrutan anak-anak sebagai pemeran dalam sinetron

remaja sendiri sebenarnya juga mempunyai dampak yang

besar terhadap prilaku, mental dan perkembangan

psikologi dirinya. Istilah eksploitasi anak oleh orang

tua sering kita dengar mengiringi perjalanan karier

para aktor dan aktris cilik walaupun sering dibantah

pula oleh mereka.

Sebagai seorang anak yang sedang berkembang dan mulai

mengenal lingkungan dengan cara bersosialisasi, para

aktor dan aktris cilik di sinetron remaja tetap

mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi sebagaimana hak

mereka yang telah dilindungi dan dijabarkan dalam

Konvensi Hak Anak khususnya mengenai hak untuk

kelangsungan hidup dan berkembang serta hak untuk

mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami

eksploitasi sebagai pekerja anak.

Permainan Stakeholder

Para stakeholder dunia sinetron Indonesia seharusnya

menyadari sepenuhnya bahwa mereka dalam

mempublikasikan hasil karyanya adalah melalui media

audio-visual berupa televisi. Diakui atau tidak media

tersebut saat ini memegang peran penting di era

kebebasan pers dan penyiaran sebagai salah satu

instrumen dalam kebudayaan massa ditengah kondisi

masyarakat Indonesia yang masih terjebak pada budaya

“nonton” .

Dalam pandangan Suryabrata (1987) seseorang memperoleh

pengetahuan dari apa yang mereka cecap, lihat, dengar,

dan rasakan sehingga dalam perkembangannya

menghasilkan sebuah cara bersikap dan bertindak

berdasarkan pengetahuan yang didapatnya dari

pengalaman tersebut.

Dan melalui televisi inilah publik khususnya para anak

dan remaja mendapatkan piranti untuk melihat,

mendengar dan ikut merasakan emosi yang disajikan

sinetron lewat televisi. Maka tak ayal jika kemudian

perilaku mereka banyak dikonstruksi oleh peran, jalan

cerita dan segala polah yang bersumber dari para

pemain sinetron.

Kanak-kanak dan remaja sekarang cenderung menangkap

gaya hidup maupun karakter yang ditampilkan di

sinetron secara mentah-mentah. Padahal apa yang tampak

dilayar kaca seringkali jauh dan tidak mewakili

realitas kehidupan remaja sesungguhnya. Parahnya hal

ini oleh sebagian masyarakat (khususnya anak dan

remaja) dianggap sebagai kehidupan ideal masa remaja

yang jika mereka tidak menirunya akan dianggap kurang

gaul dilingkungan mereka bersosialisasi.

Selain itu pihak stakeholder dunia sinetron

akhir-akhir ini juga mulai cenderung melupakan

nilai-nilai sebagai amanat dari sebuah seni

pertunjukan yang bernama sinetron, malah mereka lebih

disibukkan urusan rating dan iklan dengan

mengenyampingkan tanggung jawab moral sebagai seniman

yang seharusnya menebar amanat di tiap karyanya. Hal

ini masih diperparah dengan kebijakan beberapa stasiun

televisi yang mulai ber-konspirasi menayangkan

sinetron-sinetron remaja serupa sehingga tak ada ruang

lagi bagi masyarakat untuk memilih. Akibatnya mau tak

mau segmen penonton yang dibidik (anak-anak dan remaja

) harus menikmatinya karena tak ada tawaran alternatif

lain untuk ditonton.

Disini peran pemerintah sangat ditunggu sebagai

pemegang kunci kebijakan menyikapi penyelewengan para

stakeholder dunia sinetron dalam memainkan kebebasan

pers dan ekspresinya. Jika selama ini karya-karya

mereka hanya mencerminkan budaya pragmatisme dan

kapitalisme, maka perlu dibuatkan aturan main yang

jelas sehingga sinetron remaja lebih berbobot dan

bervisi.

Selain itu masyarakat luas baik penonton (anak-anak

dan remaja ) maupun para aktor dan aktris sinetron

sendiri harus ikut mengawasi dengan memberikan

penilaian dan masukan kepada pihak stakeholder untuk

sama-sama menjunjung etika berkarya. Jika tak ada

kesadaran kearah sana bukan tak mungkin sinetron

remaja kita hanya akan semakin membentuk generasi yang

terasing dari lingkungannya karena tak ada lagi

sinetron remaja yang menggambarkan relitas kehidupan

yang sebenarnya.

Malaikat Maut Dalam Negara


Ditengah kesadaran HAM dan hukum yang semakin tinggi, pemberlakuan hukuman mati di berbagai negara termasuk Indonesia bagi para pelaku tindak kejahatan berat kian menegaskan bahwa produk hukum tersebut bak duri dalam daging.

Sebagaimana diyakini para teolog terdahulu, SIM (surat izin membunuh) diturunkan tuhan sebagai upaya memotong rantai kejahatan bagi umat manusia agar terlepas dari sifat kebinatangan. Agama Nasrani, Islam maupun Yahudi sendiri mengakui hukuman tersebut bahkan secara eksplisit diterangkan dalam kitab suci masing-masing. Secara serempak ketiganya mengakui adanya dosa-dosa besar yang bisa melampangkan jalan bagi diberlakukanya hukuman mati terhadap pelaku kejahatan.

Konsep dosa besar kemudian dalam praktiknya mewarnai produk-produk hukum yang lahir di berbagai negara. Dari sana lahir dua arus besar, yang pertama negara agama yang meletakkan ajaran agama sebagai sumber hukum satu-satunya. Yang kedua negara non agama, negara dengan konsep ini akan cenderung mengadopsi tata hukumnya dari masa kolonial dengan berbagai modifikasi dan negosiasi-negosiasi moral, filsafati, maupun religius. Walaupun berbeda, dua arus itu senyatanya bertemu dan bersepakat dalam muara diberlakukannya hukuman mati.

Konsep yang diusung dua arus negara tersebut bertentangan dengan konsep Jhon Rawls tentang konsep keadilan. Rawls menandaskan bahwa sebuah konsep keadilan publik harus merupakan konsensus atas segenap doktrin komprehensif yang nalar yang ada dan harus seindependen mungkin terhadap berbagai doktrin moral, filsafati, maupun religius yang ada (Rawls: 1996, hlm 144).

Apa yang diungkapkan Rawls diatas setidaknya sejalan dengan perkembangan moral manusia dan berbanding lurus dengan bertambahnya pengetahuan tafsir manusia terhadap teks-teks suci. Dua hal ini mencapai bentuknya dalam teologi dialektika. Dan dari sana diakui ataupun tidak muncul sebuah kesadaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan termasuk hak hidup bagi para pelaku kejahatan. Kesadaran ini terkukuhkan kembali oleh kenyataan bahwa mencabut nyawa seseorang bukanlah sesederhana masalah “ketok palu” oleh hakim. Searif-arifnya manusia,seadil-adilnya sistem peradilan dan secanggih-canggihnya hukum, keputusan hakim tetap saja bisa salah. Dan ini sering terbukti pada kasus-kasus yang terjadi di Amerika Serikat dimana 123 terdakwa yang telah terlanjur diputus hukum mati ternyata di kemudian hari diketahui tidak bersalah, tentunya dengan berbagai bukti yang mendukungnya. Bahkan yang lebih fatal ketika diketahui bahwa ada terdakwa yang sudah terlanjur dihukum mati ternyata akhirnya diketahui tidak bersalah setelah dieksekusi.

Lalu bagaimana dengan kasus-kasus lain yang tentunya ada kemungkinan “diaduk-aduk” oleh kepentingan penguasa ataupun pihak-pihak yang merasa dirugikan sang pelaku yang akhirnya berakibat pada kesalahan vonis ? pada tataran ini negara tak ubahnya punya peran sebagai malaikat maut yang cukup mengancam keberlangsungan hidup warganya sendiri. Dari sini tampaknya semakin jelas bahwa selama ini hukuman mati yang diterapkan di berbagai negara bisa saja terjebak pada sikap berat sebelah ataupun salah vonis.

Untuk itu, konsep keadilan yang diusung oleh dunia peradilan juga harus mampu mengakomodir hak pelaku kejahatan itu sendiri. Sebagai seorang manusia tentunya ia mempunyai hak untuk meneruskan hidup, belajar atas apa yang pernah dilakukanya kemudian merubah arah hidupnya. Bukankah prinsip ini juga sejalan dengan ajaran Tuhan terhadap umatnya melalui ajaran kasih-Nya ?

Sebagaimana di Muat di Kompas DIY Jateng edisi Jum’at 19 Oktober 2007

Senin, 15 Oktober 2007

Short story

Kesaksian Kakek Dan Surau Tua
Bangunan itu masih tetap saja kokoh, semua kayu
penyangga atap, pintu dan jendela masih kelihatan
segar walaupun penuh kerutan. Semuanya dari bahan kayu
jati yang sudah cukup tua. Mulai lantai hingga atap
tak luput satupun yang menandakan bau semen, tanah
ataupun logam apalagi aksesoris berupa hiasan dinding
mahal. Ya, bangunan surau itu benar-benar menyatu
dengan alam. Keberadaanya bisa dibilang juga kelahiran
sebuah dusun kecilku bernama Garib. Sebuah nama yang
diambil dari nama pendiri surau ini sebagaimana
maknanya yang berarti asing dan aneh.
Kata kakekku, sejak lahir ia sudah melihat surau itu
berdiri dan nampaknya juga masih tetap setua itu. Kami
para penduduk Garib juga cukup kesulitan menerka
berapa umurnya yang pasti. Selama ini kami hanya
menjumpai sebuah bukti bahwa kayu-kayu yang merangkai
bangunan surau itu sudah penuh dengan lipatan dan
kerutan pertanda kerentaanya bahkan sepertinya telah
membentuk ornamen-ornamen alami nan unik walaupun
tanpa dicat ataupun diplitur. Layaknya tempat ibadah
lain, surau ini juga digunakan penduduk kampung
menjalankan ritual-ritual agama seperti sholat ataupun
mengaji. Walaupun luas surau itu tak lebih dari
seratus meter persegi, anehnya ia tetap saja muat
dengan jumlah jama�ah yang hadir. Sepertinya ia tahu
diri. Setiap jama�ah membludak maka dengan sendirinya
ia �memekarkan� tubuhnya, untuk itulah surau itu tak
pernah dilebarkan ataupun direnovasi karena tetap saja
muat berapapun jumlah orang didalamnya. Itu sekelumit
cerita turun-temurun yang kuketahui dari kakek dan
para orang tua di kampung Garib.
Dengan umur yang sudah cukup uzhur, rambut putih yang
sudah nampak mulai berguguran karena usia tua serta
kulit yang melipat-lipat rata di sekujur tubuh dan
wajahnya, Kakekku tak pernah melewatkan seharipun
untuk berselingkuh dengan hal-hal lain. Mungkin di
usia tuanya yang telah mencapai delapan puluh-an hanya
itulah satu-satunya kegiatan untuk mengisi
kepenatannya. Terkadang ia sendirian shalat dhuhur di
surau tua itu dimana kaum para bapak di kampungku
masih sibuk dengan tanamannya disawah, sementara pasar
dikota masih tampak begitu ramai dan sesak oleh
ibu-ibu. Kakekku seakan tetap menunjukkan kesetiaan
dan cintanya pada surau itu. Tak jarang tanpa seorang
pun yang ikut mengiringi dibelakangnya membentuk shaf
bahkan aku, bapakku dan keluargaku.
###
Tak seperti di masa kecilku dulu. Gambaran semarak
surau itu begitu melekat dalam benakku. Masih kuingat
dengan segar, dulu disetiap waktu shalat tiba kami
biasanya saling berlomba menabuh kentongan. Tak jarang
pula satu kentongan kami tabuh beramai-ramai sehingga
bunyinya tak karuan. Kemudian kakekku menyusulnya
dengan ber-azdan, suaranya masih cukup kuat dan khas
walaupun tidak cukup merdu. Letak surau yang tepat
ditengah-tengah bukit kampung Garib membuat suaranya
tetap terdengar ke seluruh pelosok dusun.
�Le, ayo lekas bersih-bersih, waktu shalat telah tiba�
Kata itu masih terngiang ditelingaku. Diumurku yang
masih tujuh tahun saat itu nenekku tak pernah lupa
mengingatkan untuk segera beranjak menunaikan shalat
di kala aku tengah asik bermain perang-perangan
bersama kawan-kawanku. Saat kami mencoba berpaling dan
menolak ia tetap saja mampu merayu kami dengan cara
lain. Tak jarang ia sengaja memasakkan tiwul manis
yang diatasnya ditaburi parutan kelapa untuk
disuguhkan bagi siapa saja yang shalat di surau tua
itu termasuk kami. Cara tersebut memang cukup manjur
karena tiwul yang ia suguhkan memang lezat. Setelah
seharian bermain tenaga kami tentu cukup terkuras,
perut pun mulai keroncongan sehingga tidak ada pilihan
kecuali menuruti anjuranya tapi sebenarnya tidak
sesederhana itu, tiwul masakan nenekku rasanya sangat
khas dan lezat. Tak pernah kujumpai orang sepandai dia
dalam mengolah makanan khususnya tiwul. Itulah
sebenarnya yang tidak ingin kulewatkan bersama
kawan-kawan sepermainanku, makan nasi tiwul yang
rasanya selalu membuat kami rindu.
Tepat di umurku sepuluh tahun, alam di dusunku
sepertinya bersatu larut dalam kesedihan ikut
mengantarkan nenekku ke pangkuan Tuhan. Praktis sejak
itu tak ada lagi cerita tiwul manis nan khas yang
tersuguhkan bagi mereka yang shalat di surau tua yang
menurutku itulah sebenarnya yang ditunggu-tunggu para
jama�ah..
Sepeninggalnya tak ada lagi serangkaian guyonan khas
pedusunan tiap azdan menjelang ataupun kegaduhan
anak-anak kecil di waktu shalat yang suaranya sering
mengganggu mereka yang berdiri di shaf depan. Semuanya
telah menjadi sunyi.
###
Dua puluh lima tahun lalu aku tinggalkan dusun Garib
menuju kota Jakarta. Tak lain hanya untuk mengadu
nasib dan melepas diri dari kemiskinan. Tak seperti
pemuda seusiaku, aku termasuk orang yang tidak sabaran
dan pantang menerima kemiskinan begitu saja sebagai
nasib yang harus dijalani. Berbekal badanku yang
tinggi besar dengan otot-otot kekar aku coba beranikan
diriku menantang Jakarta. Dengan pengalamanku sebagai
seorang paling jago berkelahi di kampung ternyata tak
begitu sulit bagiku untuk menguasai Jakarta. Tak lebih
dua tahun ternyata aku sudah punya nama disana.
Geng-geng dan para preman satu persatu bertekuk lutut
di hadapanku. Aku merasa bagaikan seorang pendekar
baru.
�Kamu harus setor harian kepadanya malam ini, kalau
mau daganganmu aman dari preman itu�. Kata-kata itu
sering terdengar ketika aku berpapasan dengan para
pedagang baru yang belum kenal dengan tradisi yang
bergulir di pasar-pasar kekuasaanku. Dari hasil
��pajak�� itu aku aku telah mampu membeli mobil,
hidup mewah dan menghabiskan malam dengan bersafari
keliling nigt club sambil cari mangsa baru atau
sekedar cari lawan tanding untuk mengukuhkan kehebatan
diriku.
Ya, semua kujalani dengan kebanggaan. Tak pernah
kurasakan hidup semudah, sebebas dan seindah ini,
dapat memilih setiap wanita nakal yang kusukai malah
terkadang mereka sengaja menawarkan dirinya untuk
menaikkan statusnya sebagai pacar seorang jagoan.
Tak ada orang di dusun Garib yang mempermasalahkan
pekerjaanku atau memang mereka sengaja bungkam dengan
gunjingannya karena takut terhadapku. Praktis setiap
pulang kampung aku aman-aman saja. Ayah,ibu maupun
saudara-saudaraku tak pernah ada yang berani
mengusikku. Mereka takut pada kebringasan dan
kenekatanku yang siap mengancam siapa saja yang
mencoba menjajah kebebasanku.
Hanya kakekku yang berani kepadaku. Aku pernah
didamprat habis-habisan setelah tahu pekerjaanku di
Jakarta. Wajahku saat itu lebam-lebam dengan hidung
yang berdarah-darah dibuatnya, tapi aku tetap terpaku
membiarkannya terus memukulku bertubi-tubi. Namun
akhirnya kulihat dia kelelahan dan di akhir
kejengkelannya kulihat air mata dari kedua sudut
matanya mengaliri kerut-kerut di pipinya. Aku tetap
diam membatu. Tak seperti biasanya setiap ada ancaman
aku akan bereaksi sangat keras tapi menghadapi kakekku
aku benar-benar lumpuh. Bukan karena aku kasihan pada
kerentaanya tetapi entah ada apa denganku. Hanya dia
yang kuanggap mampu mengunci kebringasanku.
Setiap tahun memang kupaksakan diriku untuk pulang.
Ada sedikit kerinduan bukan kepada ayah, ibu ataupun
keluargaku tapi semata-mata kepada kemarahan kakekku.
Harus kuakui diam-diam muncul keinginan dalam diriku
untuk bisa dikalahkan seseorang setelah setahun tak
ada lawan yang bisa mengalahkanku. Tapi tiga kali
kepulanganku yang terakhir sebenarnya ada hal lain
yang lebih kuinginkan. Aku mulai merindukan masa
kecilku.
Sudah menjadi ritualku akhir-akhir ini tiap kupulang.
Aku pandangi surau tua itu dari kejauhan. Letaknya
yang diatas bukit menyebabkannya terlihat jelas dari
kejauhan. Lama sekali bahkan berjam-jam posisiku tetap
tak beranjak saat memandangnya, tak berubah.
Tak ada yang berubah dari surau itu. Hanya suasananya
yang berganti, berubah sepi, sangat sepi.
###
Tahun ini aku sengaja pulang agak lebih awal dari pada
tahun-tahun sebelumnya. Jakarta kurasakan semakin
padat saja,udaranya kurasakan semakin kotor,
kebisingannya telah memadat di lorong-lorong tubuhku
hingga memaksaku untuk mencari suasana lain secepatnya
dan itu adalah dusun Garib kampung halamanku yang
masih cukup sejuk seperti dulu.
Jalanan kampung kulalui dengan penuh tatapan dari
kanan ke kiri. Terlihat jelas persawahan membentang
dari bujur selatan ke utara, hanya jalan yang
kulaluilah yang membelahnya namun tak kutemukan
seorangpun kaum muda sejauh ini. Kebanyakan mereka
mencari kerja ke kota seperti aku. Hanya kaum ibu dan
bapak-bapak seumuran ayahku yang tersisa. Tak jarang
mereka yang berpapasan denganku memandangi penuh
curiga namun ada juga yang menganggukkan kepalanya
sebagai tanda hormat padaku.
Setelah setengah hari perjalanan dari Jakarta akhirnya
mobilku berhenti tepat di bawah sebuah bukit, dimana
surau tua itu berdiri. Setelah selama ini tiap aku
pulang hanya memandangnya dari kejauhan, kali ini
kuberanikan diriku untuk bersua dan menyentuhnya.
Jantungku berdegup kencang mengiringi langkahku
menapaki bukit itu. Ada aroma mistik yang begitu kuat
seperti sebuah keinginan dari surau itu untuk menolak
kehadiranku. Baru sepuluh langkah kuayun kakiku,
perasaan ini tambah tidak menentu. Keringat dingin
mulai meraupi wajah dan telapak tanganku, sesekali aku
coba kibas-kibaskan tanganku untuk mengusir gugup yang
datang.
Sesampainya di depan surau tua itu aku berdiri
memandangnya, lama sekali. Nampak bunga �bunga liar
didepannya, rumput-rumput tak mau kalah tumbuh lebat.
Kualihkan mataku menuju pintu. Nampak sebuah
coretan-coretan semprot warna hijau, sepertinya
coretan anak-anak yang iseng.
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh sebuah tepukan di
pundakku.
��Le, kamu pulang ?.
Suara parau itu membuatku kaget. Kutoleh seorang tua
renta keriput tapi kekar berdiri tepat dibelakangku
yang tak lain adalah kakekku sendiri. Entah tiba-tiba
tanganku secara reflek meraih tangannya kemudian
menciumnya, padahal selama lebih dua puluh tahun tak
pernah sekalipun aku mencium tangan seorangpun
termasuk bapak ibuku. Tapi ada sesuatu lain yang
kurasakan. Saat ini dia bersikap sangat mendewasakanku
tanpa sebuah tamparan maupun cacimaki yang biasanya
kerap ia lontarkan tiap kupulang. Raut mukanya tak
kutemukan tanda-tanda permusuhan ataupun kecewa
terhadapku, padahal itu yang biasanya membuatku rindu.
��Waktu Zhuhur tiba, aku harus menunaikannya��.
Hanya kata itu yang kemudian kudengar. Tapi aku hanya
diam dan larut dalam ketakjubanku kepadanya. Orang
setua dia tak pernah merasa bosan membersamai surau
ini. Apa yang menariknya hingga harus mengabdikan diri
disini?
Surau tua itu seperti menarik bajuku, menuntunku untuk
bergegas membuka sandal dan jaketku. Saat berwudlu
tanganku agak gemetar dan kikuk karena terus terang
aku harus mengingat-ingat urutan dan tatacara berwudlu
yang hampir saja kulupa. Kemudian aku berdiri di
belakang kakekku bersama-sama shalat, sebuah ritual
yang selama di Jakarta tak pernah kutunaikan lagi. Tak
terasa setiap lantunan doa yang kubaca membawaku pada
ingatan akan mereka orang-orang kecil tak berdaya yang
kuperas dan kuhisap hartanya, mengawini tiap perempuan
yang kusuka hingga gambaran yang begitu jelas
malam-malamku yang melalang di nightclub. Setiap
ingatan saat itu benar-benar menamparku dan membuatku
cengeng, aku benar-benar ditelanjangi. Satu demi satu
buliran air mataku mengalir hingga menetesi lantai
surau. Setiap bersujud kuingin berlama-lama tenggelam
menikmati aroma kesejukan yang membuat jiwaku
tertawan. Setelah usai shalat setengah sadar aku
meraung sekeras-keras suaraku seperti orang yang
tersiksa. Sementara kakekku terus saja melantunkan
bacaan tasbih berkali-kali ke telingaku, semakin keras
semakin kuat aku meraung. Hingga akhirnya aku
tersungkur kembali bersujud.
Sambil sesenggukan kucoba kuatkan hati dan diriku.
Kuteruskan dengan duduk bersila sambil memejamkan
mataku. Kurasakan kedamaian tiap nafas yang kuhirup
serta ketenangan yang tidak pernah aku dapatkan
sebelumnya. Terbetik dihatiku merindukan surga tapi
lagi-lagi hatiku menampiknya seakan mengingatkan
diriku tak pantas berada di sana.
��Ya Allah, surau tua ini telah menjadi saksiku untuk
kembali kepada jalan-Mu�
Mendengar ucapanku kulihat bibir kakekku terkembang
bukti bahagia.

Yogyakarta,Maret 2007

puisikoe(sebuah pusara)

Siang Kematian

Kau lari berputar
Membukakan terang mengunci petang
Mengantarkan warna-warni puisi alam
Pada para pemuja keindahan

Ah,
kilatan siang
Kau mulai berpaling
Picikkan rasamu
Membabi buta membakar kayu-kayu
Hingga tak tersisa sebatas jeda waktu
Kebanggaan yang dirindu-rindu tiap pagi
Beriringan kilauan embun di pucuk ilalang dan
rumput-rumput liar
Tak lagi pesonakan pagi

Ohoi �panas siang
Wibawa terikmu tak lagi gencar
Hanya semakin membuat ngeri mataku
Terpaku diam menikmati kengiluan
Tatapan yang kau suguhkan
Tak pernah beranjak
Mengantar mata pada tangisan-tangisan bau hitam
Rona-rona duka tersebar bersama sinarmu
Bertalu-talu lima kali dalam sehari
Bersautan dengan suara azan

Siang
Kau telah berganti baju
Anak kecilpun dapat mengejamu
Tiap kau bertandang
Tak lagi terucap harapan
Membius ruh-ruh layu
Semua termaknai kematian yang mengejar
Sambil melenggang kau berbisik sahdu
�Kematian awal kehidupan�


Yogyakarta, Maret 2007







Ruang (yang kembali ) kosong

Tegun mulai mengajak mata ini berayun
Bersambung dengan ratapan sisa-sisa suara tak bertuan
Memandang jauh lelaku penuh keyakinan
Merangkai pecahan-pecahan kaca yang ternoda

Masamu�
Gemuruh suara itu lahir
Diiringi tetesan darah semangat yang terpendar-pendar
Bak kilatan cahaya di pusat gelap
Membikin malaikat di pojok-pojok langit
Memuji elok suaramu

Disini�
Sekian tahun lalu
Di keadaaan sepi dalam ruang yang sama
Semuanya tertinggal
Termampatkan
Mungkin juga sudah terlelang

Kusaksikan�
Mata dan mulut sejarah terbungkam
Berevolusi menjadi monumen bangkai berlapis emas
Berdiri semegah tong-tong kosong,
Takkan lagi bisa kau kenal
Bahkan sekedar untuk mencium baunya

Ruangan itu hanya menyisakan kamar-kamar gelap
Tak ada lagi rupa malaikat tersenyum
Menyambut lagu kemenangan
Suara-suara suci itu pergi
Meniggalkan jejak kesunyian
Tanpa tahu kapan sejarah itu terlahir kembali

Yogyakarta, Februari 2007









RINTIHAN SEBUAH JALAN
Jalan yang tersusur
Mengucapkan tiap nyawa yang terangkai
Tergambar luka dan darah tercecer
Membasahi tulang dan igamu

Pernah engkau bermimpi ?
Melihat bayang-bayang mereka dicermin jalan itu
Fatamorgana yang berdiri diseberang jalan
Berkesima dengan cahaya-cahaya
Semua terang bukan jaminan untukmu
Mengingat mereka dalam jengkal langkahmu

Yogyakarta, 29 Maret 2007


SUATU SORE
Mendung kali ini
Membelah lagu-lagu pikirku
Meraupi wajah sunyi dengan kidung luka
Menyeret asa ke laut desah
Mempertanyakan setiap tanda-tanda
Mataku,wajahku,bibirku merasai kelu
Terdiam dalam titik-titik waktu-Mu.

Yogyakarta,29 Maret 2007



Alam (tak lagi) Berpuisi

Alam (tak lagi) berpuisi
Mendendangkan lagu-lagu indah karya ilahi
Mulutnya tersumbat oleh tamparan tangan-tangan serakah
Tubuhnya terkoyak anjing-anjing liar
Aromanya terendus tikus-tikus bermoncong
Buah hidupnya disandera para kelelawar
Ditelanjangi dan diperkosa
Tak ada lagi tersisa
Menjelang ajal
Ia berwasiat kepada anak cucunya
�Bangunkan monumen kesedihan manusia
diatas amarahku sebagai pembalasan�

Yogyakarta, Maret 2007

Gelap

Di sudut-sudut tembok seribu lampu dipijarkan
Ratusan obor dipaksa menyala di tengah mata
Sementara ruang realita tetap saja menikmati gelapnya

Cahaya
Kau tak lagi mampu menelisik sekat-sekat
Menyuguhkan bayang pada kornea
Kenapa kau bersikukuh
Enggan bersatu dengan kegelapan
Dan bergumul melahirkan terang..?

Gelap
Kau bukanlah milik malam semata
Mewarnai kesunyian kala lampu padam
Wujudmu telah menjadi pandangan berjuta mata
Melucuti cahaya yang mengalir di tiap-tiap indera
Membunuh intuisi daan nurani
Mencabik-cabik nyali khayal
Dan menuntunnya pada buta

Yogyakarta, Maret 2007


Burung-burung Gereja

Rintik angan yang tersisa dipelukan
Berpaling dan bersekutu dengan kaum plin-plan
Datang kembali merapatkan burung-burung gereja pada
asa
Berjahit balutan asap
Dan mimpi terbungkus kado indah
Sebuah persembahan dari altar setan

Oh,..
Burung-burung gereja bertebaran
Sambil meletakkan nasibnya mereka menyambut dengan
gembira
Kabar-kabar keindahan bengkit menuju surga
Yang mereka terima kemarin

Burung-burung gereja berebut
Menyemut
Membuka kado hadiahnya
Terbata-bata mereka
Seluruh isi kado meletup
Mengiang dan berputar
Melubangi sayap-sayapnya
Tak bisa lagi dipastikan
Dan seenaknya melaju tanpa koma
Terus menyembul menebarkan benih murka
Di tiap-tiap ruang yang terlena
Tiada ampun terus saja menyambar
Merontokkan mukim-mukim keteduhan burung-burung gereja
Yang telah lama lapar

Di kota para burung gereja
Laknat-laknat menghadang di pintu-pintu kota
Mural-mural untuk meyambut tamu yang datang
Diganti jejeran nyawa sebagai tumbal hiasan budaya
Dengan sesekali diiringi nyanyian bernada lirih
burung-burung gereja yang sekarat
Menyanyikan koor lagu memanggil kiamat

Tunggulah�
Ketika nafas-nafas yang kaulindas
Akan berbagi mantra dengan murka Tuhannya
Membentuk adonan kebinasaan

Yogyakarta, Juli 2006

Oleh :
Ishaq FH

Puisimoe-puisikoe

Puisi Indrian Koto
Pledoi Malin Kundang

i
karena jarak mengajarkan rindu
maka, izinkan aku mengangkat sauh, ibu
sejak dulu, aku ingin karam di laut yang jauh
agar aku tak melulu diserbu sesal yang gaduh
sebagaimana kau tahu,
tanah ini menyimpan kesakitan masa lalu
bagi lelaki seperti aku

maka, aku mencipta masa depan dalam ingatan
menghijaukannya diam-diam

aku celaka ibu, kutuk saja menjadi batu
agar lunas utang sangsaiku
agar padam segala keluh
agar sejarah tak perlu mencatatku
mengekalnya di balik cadas

“duh, yang bernama keberangkatan
betapa ranum di matamu. hingga kau hapus
segala yang sisa.” sedumu di sebuah subuh.

tidak ibu, segala tempat, segala waktu
dan untuk seluruh peristiwa setelahnya, hidup
adalah belajar melupakan dan selalu ditinggalkan
lalu aku, untuk sebuah keberangkatan
kurasa bukan lagi sejarah baru.

laut itu ibu, laut itu selalu memanggilku
aku seperti mencium tanah lain di kedalamannya
jika kelak mati –di tanah mana pun – aku ingin
berkubur di karang saja
sebab laut selalu jujur, di pantai mana pun kau berdiri
akan kau rasa warna yang sama. juga camar itu.

menangislah, dan sesalilah segala bernama masa lalu
karena pagi ini aku akan menulis sejarah baru
dan kelak, semoga tangismu mengembalikan aku
pada halamanmu dan api tungku

oh, laut mengapa mengambil segala yang sisa
dan menghanyutkan ke tempat jauh?
dan aku, si celaka ini diam-diam telah membenamkan
segala riwayat bersama sauh. laut mengajarkanku
untuk membakar segala biru. dan kapal ini
segala yang bernama pelayaran adalah jalan lain
membakar ingatan.

ii
kupasrahkan hidup pada yang baru
merawatnya sebagai kelahiran lain
sebab hidup meringsek maju dan aku, lelaki yang dibalur
dendam mengeja, ibu, pada setiap sudut jalan.

ini tanah lain yang kamu percaya sebagai rumah lain
padanya aku temukan wajah bapak yang lupa kau ceritakan
–duh, mengapa aku juga tak pernah mempertanyakan?
betapa sumbingnya kisah yang kau gariskan di tubuhku.

di pantai yang lain kutanam riwayat baru di pasir yang sama pucatnya
kukirim kenangan yang bersisa kepadamu
-semoga laut akan sampai padamu dan membisikkan diam-diam
lewat sepotong malam yang kau rawat di kolong ranjang.
kuproklamirkan kesendirian ini tanpa bendera
dan tanda cinta. Dengan sisa jahitan luka
cukuplah kupetakan nasib sendiri
padanya segala masa depan kukaitkan tanpa sisa.

iii
bukankah sudah sejak lama kau kehilangan?
aku tak menumbuhkan apa yang sempat padam ibu
jika itu membuatmu nyeri, membuatmu perih
hapuslah aku dan sudahi saja si celaka ini
sebab darimu segalanya dan engkaulah yang kelak mengambilnya

“aku tak menemukan lagi anakku,
siapa yang telah menguburnya di pulau lain? ia yang sempat
memeras habis susuku menyudahi kisah tentang kami.
celaka, celakalah ia yang durhaka.”

siapa sebenarnya yang durhaka? tak kau ajarkan aku
tentang dosa dan rindu
selain patahan ranting, deru ombak, merawat dendam
“jangan tersedu, sebab lelaki dilahirkan bukan untuk itu
sebab bapakmu, dulu sambil tersedu menumpangkanmu di rahimku
tapi begitu saja ia berlalu.” katamu dulu
lalu aku belajar kejam pada yang bernama kehilangan dan masa lalu

celaka? siapa yang celaka sesungguhnya?
dulu aku tak minta dilahirkan. dengan melupakanmu
aku berharap masa lalu segera padam. tapi kau tak kunjung hilang ibu.
maka, izinkan aku mencintaimu dengan kesombongan ini
agar semua terlunaskan
agar dendam terbayarkan

“pada jejakmu yang membatu, pohonpohon tumbuh serupa lelatu
dan ibu, tak pernah sangsi anakku, atas segala nasib buruk.
jika kesenangan mengembalikan dirimu pada yang paling jahiliah
sungguh, ibu tak rela.”

tidak ada yang pulang sebenarnya, ibu
tubuhku, kapal baru yang dimuati segala baru
dengan tanah lain yang melulu biru

“bukankah ibu, tak pernah mengambil
apa pun setelah semua dilahirkan?
ia yang sungai, mengembalikan semua ke laut jua.
lalu aku, si anak hilang, kau kalungkan sumpah dan petaka.”

“setiap kehilangan adalah satu kepulangan lain
dan kau tak pernah pergi sesungguhnya.”

“keberangkatan, adalah kehilangan.
juga aku.”

“sungguh celaka.”

celakalah, enyahkan aku dari hidupmu
dari hasrat dan rasa malu

“kukembalikan kau pada segala asal
pada segala kepulangan.”

inilah aku si celaka itu
yang kekal oleh hasrat dan rasa malu.

Yogyakarta, 2007


Catatan:
Puisi ini adalah tafsir atas legenda Malin Kundang dari Sumatera Barat