Hari ini memang bukanlah eranya si Unyil, Bawang
putih, ataupun Keluarga Cemara yang dalam setiap jalan
ceritanya syarat makna serta menawarkan
prilaku-prilaku edukatif melalui karakter
masing-masing pemainnya. Sehingga dalam perjalanannya
mampu membentuk atau setidaknya memberi pelajaran
moral kepada segmen penonton yang dituju-dalam hal ini
anak-anak Indonesia.
Hari ini adalah hari ketika dunia sinetron Indonesia
disesaki pemain anak-anak yang bejibun jumlahnya,
kehadiran mereka dalam dunia sinetron Indonesia
semakin hari merambah ke berbagai segmen cerita dari
yang sederhana sekedar peran bumbu hingga yang paling
kompleks menuntut keterlibatannya dalam konflik yang
disuguhkan dimana sebenarnya lebih pas sebagai ranah
orang dewasa.
Salah satu unsur konkrit pelibatan anak-anak yang jadi
trend sekarang ini adalah menarik mereka menjadi
bagian dari sinetron-sinetron remaja. Tidak
tanggung-tanggung mereka banyak juga yang dipasang
sebagai pemain utamanya. Disini kebijakan sutradara
dan skenario terlihat dipaksakan padahal, dari segi
umur maupun tingkat kedewasaan para pemain yang masih
tahap usia anak-anak itu dalam memerankan sosok remaja
belum cukup mewakili untuk mengartikan masa remaja
yang sesungguhnya, bahkan terkesan bias.
Hal ini masih dilengkapi dengan jalan cerita sinetron
remaja di stasiun-stasiun TV yang terjebak pada
gambaran masa remaja yang terkesan dibuat-buat penuh
dengan fantasi. Disana-sini para pemain anak-anak di
setting sedemikian rupa sehingga karakter kekanakannya
hilang dan yang tertinggal hanya kesan glamour, usil,
dan sikap badung menjelang masa remaja. Belum lagi
ditambah dengan rentetan cerita yang hanya
berputar-putar pada persaingan merebut pacar hingga
perlakuan tidak adil dari ibu maupun saudara tiri.
Praktis, nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi
amanat tiap sinetron menjadi hambar, bahkan mungkin
memang sengaja ditiadakan.
Perekrutan anak-anak sebagai pemeran dalam sinetron
remaja sendiri sebenarnya juga mempunyai dampak yang
besar terhadap prilaku, mental dan perkembangan
psikologi dirinya. Istilah eksploitasi anak oleh orang
tua sering kita dengar mengiringi perjalanan karier
para aktor dan aktris cilik walaupun sering dibantah
pula oleh mereka.
Sebagai seorang anak yang sedang berkembang dan mulai
mengenal lingkungan dengan cara bersosialisasi, para
aktor dan aktris cilik di sinetron remaja tetap
mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi sebagaimana hak
mereka yang telah dilindungi dan dijabarkan dalam
Konvensi Hak Anak khususnya mengenai hak untuk
kelangsungan hidup dan berkembang serta hak untuk
mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami
eksploitasi sebagai pekerja anak.
Permainan Stakeholder
Para stakeholder dunia sinetron Indonesia seharusnya
menyadari sepenuhnya bahwa mereka dalam
mempublikasikan hasil karyanya adalah melalui media
audio-visual berupa televisi. Diakui atau tidak media
tersebut saat ini memegang peran penting di era
kebebasan pers dan penyiaran sebagai salah satu
instrumen dalam kebudayaan massa ditengah kondisi
masyarakat Indonesia yang masih terjebak pada budaya
“nonton” .
Dalam pandangan Suryabrata (1987) seseorang memperoleh
pengetahuan dari apa yang mereka cecap, lihat, dengar,
dan rasakan sehingga dalam perkembangannya
menghasilkan sebuah cara bersikap dan bertindak
berdasarkan pengetahuan yang didapatnya dari
pengalaman tersebut.
Dan melalui televisi inilah publik khususnya para anak
dan remaja mendapatkan piranti untuk melihat,
mendengar dan ikut merasakan emosi yang disajikan
sinetron lewat televisi. Maka tak ayal jika kemudian
perilaku mereka banyak dikonstruksi oleh peran, jalan
cerita dan segala polah yang bersumber dari para
pemain sinetron.
Kanak-kanak dan remaja sekarang cenderung menangkap
gaya hidup maupun karakter yang ditampilkan di
sinetron secara mentah-mentah. Padahal apa yang tampak
dilayar kaca seringkali jauh dan tidak mewakili
realitas kehidupan remaja sesungguhnya. Parahnya hal
ini oleh sebagian masyarakat (khususnya anak dan
remaja) dianggap sebagai kehidupan ideal masa remaja
yang jika mereka tidak menirunya akan dianggap kurang
gaul dilingkungan mereka bersosialisasi.
Selain itu pihak stakeholder dunia sinetron
akhir-akhir ini juga mulai cenderung melupakan
nilai-nilai sebagai amanat dari sebuah seni
pertunjukan yang bernama sinetron, malah mereka lebih
disibukkan urusan rating dan iklan dengan
mengenyampingkan tanggung jawab moral sebagai seniman
yang seharusnya menebar amanat di tiap karyanya. Hal
ini masih diperparah dengan kebijakan beberapa stasiun
televisi yang mulai ber-konspirasi menayangkan
sinetron-sinetron remaja serupa sehingga tak ada ruang
lagi bagi masyarakat untuk memilih. Akibatnya mau tak
mau segmen penonton yang dibidik (anak-anak dan remaja
) harus menikmatinya karena tak ada tawaran alternatif
lain untuk ditonton.
Disini peran pemerintah sangat ditunggu sebagai
pemegang kunci kebijakan menyikapi penyelewengan para
stakeholder dunia sinetron dalam memainkan kebebasan
pers dan ekspresinya. Jika selama ini karya-karya
mereka hanya mencerminkan budaya pragmatisme dan
kapitalisme, maka perlu dibuatkan aturan main yang
jelas sehingga sinetron remaja lebih berbobot dan
bervisi.
Selain itu masyarakat luas baik penonton (anak-anak
dan remaja ) maupun para aktor dan aktris sinetron
sendiri harus ikut mengawasi dengan memberikan
penilaian dan masukan kepada pihak stakeholder untuk
sama-sama menjunjung etika berkarya. Jika tak ada
kesadaran kearah sana bukan tak mungkin sinetron
remaja kita hanya akan semakin membentuk generasi yang
terasing dari lingkungannya karena tak ada lagi
sinetron remaja yang menggambarkan relitas kehidupan
yang sebenarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar