Rabu, 24 Oktober 2007

KEMENANGAN FANTASI ATAS REALITA



Hari ini memang bukanlah eranya si Unyil, Bawang

putih, ataupun Keluarga Cemara yang dalam setiap jalan

ceritanya syarat makna serta menawarkan

prilaku-prilaku edukatif melalui karakter

masing-masing pemainnya. Sehingga dalam perjalanannya

mampu membentuk atau setidaknya memberi pelajaran

moral kepada segmen penonton yang dituju-dalam hal ini

anak-anak Indonesia.

Hari ini adalah hari ketika dunia sinetron Indonesia

disesaki pemain anak-anak yang bejibun jumlahnya,

kehadiran mereka dalam dunia sinetron Indonesia

semakin hari merambah ke berbagai segmen cerita dari

yang sederhana sekedar peran bumbu hingga yang paling

kompleks menuntut keterlibatannya dalam konflik yang

disuguhkan dimana sebenarnya lebih pas sebagai ranah

orang dewasa.

Salah satu unsur konkrit pelibatan anak-anak yang jadi

trend sekarang ini adalah menarik mereka menjadi

bagian dari sinetron-sinetron remaja. Tidak

tanggung-tanggung mereka banyak juga yang dipasang

sebagai pemain utamanya. Disini kebijakan sutradara

dan skenario terlihat dipaksakan padahal, dari segi

umur maupun tingkat kedewasaan para pemain yang masih

tahap usia anak-anak itu dalam memerankan sosok remaja

belum cukup mewakili untuk mengartikan masa remaja

yang sesungguhnya, bahkan terkesan bias.

Hal ini masih dilengkapi dengan jalan cerita sinetron

remaja di stasiun-stasiun TV yang terjebak pada

gambaran masa remaja yang terkesan dibuat-buat penuh

dengan fantasi. Disana-sini para pemain anak-anak di

setting sedemikian rupa sehingga karakter kekanakannya

hilang dan yang tertinggal hanya kesan glamour, usil,

dan sikap badung menjelang masa remaja. Belum lagi

ditambah dengan rentetan cerita yang hanya

berputar-putar pada persaingan merebut pacar hingga

perlakuan tidak adil dari ibu maupun saudara tiri.

Praktis, nilai-nilai moral yang seharusnya menjadi

amanat tiap sinetron menjadi hambar, bahkan mungkin

memang sengaja ditiadakan.

Perekrutan anak-anak sebagai pemeran dalam sinetron

remaja sendiri sebenarnya juga mempunyai dampak yang

besar terhadap prilaku, mental dan perkembangan

psikologi dirinya. Istilah eksploitasi anak oleh orang

tua sering kita dengar mengiringi perjalanan karier

para aktor dan aktris cilik walaupun sering dibantah

pula oleh mereka.

Sebagai seorang anak yang sedang berkembang dan mulai

mengenal lingkungan dengan cara bersosialisasi, para

aktor dan aktris cilik di sinetron remaja tetap

mempunyai hak-hak yang harus dipenuhi sebagaimana hak

mereka yang telah dilindungi dan dijabarkan dalam

Konvensi Hak Anak khususnya mengenai hak untuk

kelangsungan hidup dan berkembang serta hak untuk

mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami

eksploitasi sebagai pekerja anak.

Permainan Stakeholder

Para stakeholder dunia sinetron Indonesia seharusnya

menyadari sepenuhnya bahwa mereka dalam

mempublikasikan hasil karyanya adalah melalui media

audio-visual berupa televisi. Diakui atau tidak media

tersebut saat ini memegang peran penting di era

kebebasan pers dan penyiaran sebagai salah satu

instrumen dalam kebudayaan massa ditengah kondisi

masyarakat Indonesia yang masih terjebak pada budaya

“nonton” .

Dalam pandangan Suryabrata (1987) seseorang memperoleh

pengetahuan dari apa yang mereka cecap, lihat, dengar,

dan rasakan sehingga dalam perkembangannya

menghasilkan sebuah cara bersikap dan bertindak

berdasarkan pengetahuan yang didapatnya dari

pengalaman tersebut.

Dan melalui televisi inilah publik khususnya para anak

dan remaja mendapatkan piranti untuk melihat,

mendengar dan ikut merasakan emosi yang disajikan

sinetron lewat televisi. Maka tak ayal jika kemudian

perilaku mereka banyak dikonstruksi oleh peran, jalan

cerita dan segala polah yang bersumber dari para

pemain sinetron.

Kanak-kanak dan remaja sekarang cenderung menangkap

gaya hidup maupun karakter yang ditampilkan di

sinetron secara mentah-mentah. Padahal apa yang tampak

dilayar kaca seringkali jauh dan tidak mewakili

realitas kehidupan remaja sesungguhnya. Parahnya hal

ini oleh sebagian masyarakat (khususnya anak dan

remaja) dianggap sebagai kehidupan ideal masa remaja

yang jika mereka tidak menirunya akan dianggap kurang

gaul dilingkungan mereka bersosialisasi.

Selain itu pihak stakeholder dunia sinetron

akhir-akhir ini juga mulai cenderung melupakan

nilai-nilai sebagai amanat dari sebuah seni

pertunjukan yang bernama sinetron, malah mereka lebih

disibukkan urusan rating dan iklan dengan

mengenyampingkan tanggung jawab moral sebagai seniman

yang seharusnya menebar amanat di tiap karyanya. Hal

ini masih diperparah dengan kebijakan beberapa stasiun

televisi yang mulai ber-konspirasi menayangkan

sinetron-sinetron remaja serupa sehingga tak ada ruang

lagi bagi masyarakat untuk memilih. Akibatnya mau tak

mau segmen penonton yang dibidik (anak-anak dan remaja

) harus menikmatinya karena tak ada tawaran alternatif

lain untuk ditonton.

Disini peran pemerintah sangat ditunggu sebagai

pemegang kunci kebijakan menyikapi penyelewengan para

stakeholder dunia sinetron dalam memainkan kebebasan

pers dan ekspresinya. Jika selama ini karya-karya

mereka hanya mencerminkan budaya pragmatisme dan

kapitalisme, maka perlu dibuatkan aturan main yang

jelas sehingga sinetron remaja lebih berbobot dan

bervisi.

Selain itu masyarakat luas baik penonton (anak-anak

dan remaja ) maupun para aktor dan aktris sinetron

sendiri harus ikut mengawasi dengan memberikan

penilaian dan masukan kepada pihak stakeholder untuk

sama-sama menjunjung etika berkarya. Jika tak ada

kesadaran kearah sana bukan tak mungkin sinetron

remaja kita hanya akan semakin membentuk generasi yang

terasing dari lingkungannya karena tak ada lagi

sinetron remaja yang menggambarkan relitas kehidupan

yang sebenarnya.

Tidak ada komentar: